Perempuan: Pendidikan atau Keluarga (?)

Atau?

Kenapa harus ada pilihan pada dua hal yang sebenarnya bisa digabungkan? Ya, alangkah indahnya jika kedua hal itu bisa ditemukan dalam sesosok pribadi: perempuan berpendidikan yang membangun keluarganya.

Sebelum berkelana lebih jauh lagi, mari sejenak merenungkan kembali tujuan dan makna pendidikan yang sebenarnya. Saya mengutip tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh Diknas, yakni mengembangkan potensi peserta didiknya. Lebih jauh lagi, Indonesia mencatat bahwa bangsa ini juga memiliki seorang guru bangsa yang meletakkan dasar-dasar pendidikan beserta tujuan mulianya, Ki Hajar Dewantara.

Tujuan pendidikan menurut beliau adalah kemampuan mengendalikan diri sehingga manusia dapat memberikan manfaat lebih banyak dan luas dalam memanfaatkan potensinya. Tujuan tersebut kemudian tertuang dalam tiga prinsip utama:

  • ing ngarsa sung tulada “(yang) di depan memberi teladan”),
  • ing madya mangun karsa  “(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”),
  • tut wuri handayani  “dari belakang mendukung”).

Berdasarkan ketiga poin tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses mengasah kebersihan hati, keterampilan adab, ketajaman akal, dan kebermanfaatan diri. Melebihi arti tentang ijazah, karir, kompetisi dengan kaum pria, apalagi untuk menjadi alasan kaum hawa meninggalkan panggilan jiwanya sebagai pendidik keluarga.

.

Tanpa mengabaikan peran ayah dalam pendidikan keluarga, tidak dapat dipungkiri bahwa seorang ibu kepada anaknya memiliki ikatan batin dan sejarah interaksi yang lebih panjang daripada ayah. Terhitung sejak sel telur dibuahi dan melekat di dinding rahim ibu, interaksi dimulai dan proses pendidikan pun berlangsung. Hingga akhirnya sang buah hati terlahir, proses menyusui dan seterusnya, interaksi dengan ibu pun membuat sang anak memiliki lebih banyak keteledanan tentang karakter manusia dari ibunya. Nah, perihal keteladanan itu sebuah kebaikan atau sebaliknya, tentu kepribadian ibu berperan sangat penting di sini.

Setidaknya, ada tiga peran utama perempuan dalam keluarga. Sebagai perempuan itu sendiri, sebagai istri, dan sebagai ibu. Ketiga peran tersebut kemudian memiliki beberapa turunan peran lain misalnya sebagai koki keluarga, desainer interior, akuntan pribadi, dokter keluarga, hingga sebagai guru pertama.

.

Pada tulisan ini saya ingin menyoroti peran perempuan (seorang ibu) sebagai guru pertama bagi anak-anaknya. Inti utama seorang guru selain kepandaian intelektual adalah keteladanan adab; baik adab bagi dirinya maupun orang lain. Ya, keteladanan adab dapat dikatakan adalah kombinasi kecedasan sosial, emosional, dan spiritual. Betapa banyak orang yang sukses dengan kemampuan intelektual rata-rata namun ia memiliki kejernihan visualisasi tentang cita-citanya, ditambah kerja keras dan semangat baja. Istilah kekiniannya, grit, atau bisa disebut juga keteguhan hati.

Apa kaitannya pendidikan, keteguhan hati, dan keluarga? Menurut saya, pendidikan adalah simulasi yang tepat bagi seorang perempuan untuk menciptakan keteguhan dalam mencapai cita-cita. Contoh sederhananya, saat kita menargetkan untuk lulus sebuah mata kuliah dengan nilai A, maka kita akan menyusun strategi dan menjalankannya dengan penuh kesungguhan. Saya merasakan sekali peran pendidikan dalam menempa mental dan keteguhan dalam mencapai cita-cita. Terutama cita-cita dalam keluarga. Keluarga kami terbiasa membuat target mingguan, bulanan, tahunan, bahkan 10 tahun. Target itu kemudian kami turunkan dalam bentuk rencana dan anak tangga yang harus dicapai setiap hari.

Misalnya nih, target travelling tahun 2018. Kami memiliki daftar tujuan yang ingin dikunjungi. Dari tempat wisata tersebut, kami tentukan waktu kunjungannya. Misalnya liburan musim panas atau liburan musim dingin (tergantung tempatnya). Setelah memasang target, kami mulai survey harga akomodasi dan tiket transportasi. Dari sanalah kami menyusun rencana keuangan dan mengkomunikasikan jadwal liburan dengan kantor suami atau sekolah anak. Kendala dalam menyusun target ini, biasanya adalah keinginan jajan ini itu di tengah bulan. Hehehe.. nah, kalau kita tidak memiliki grit yang kuat, maka akan mudah goyah dengan godaan jajan yang nggak terlalu butuh.

Contoh lain, target melakukan khitan dan sapih kepada anak saat usia dua tahun. Strategi yang kami jalankan adalah persiapan mental anak dan biaya. Sejak beberapa bulan sebelumnya, saya sudah sounding dan briefing bahwa di ulang tahunnya yang kedua Mas Fatih harus sudah selesai minum ASI dan akan dikhitan. Saya jelaskan juga khitan artinya dibersihkan supaya sehat dan cepat besar. Setelah itu, Mas Fatih boleh dapat kado dari mama papa. Alhamdulillah, Mas Fatih berhasil dikhitan tanpa drama berarti sekaligus lulus sapih di waktu yang sama.

Dari kedua contoh tersebut, saya selalu bersyukur atas kesempatan pendidikan yang saya nikmati. Di kampus akademis saya belajar menyusun strategi dan rencana. Di kampus kehidupan, sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya targetnya saja yang berbeda. Dalam setiap target yang kami (saya dan suami) susun dan jalankan bersama anak, ada proses pendidikan bagi semua. Orangtua belajar untuk menjadi teladan dalam hal konsistensi dan merencanakan kehidupan. Ayah dan ibu pun belajar untuk bekerja sama, membangun komunikasi, saling mengingatkan dan menguatkan. Tidak ada istilah siapa yang lebih baik dari siapa. Sang anak juga secara tidak langsung mencontoh integritas dan perilaku orangtuanya. Kembali pada peran ibu sebagai guru, bukankah guru artinya digugu dan ditiru?  Dari proses tersebut, sudah pasti keluarga secara aktif terlibat dan melibatkan anak dalam proses pendidikannya. Apalagi generasi masa kini yang kelak dituntut untuk bisa lebih mandiri sekaligus bisa bekerja sama dan berkomunikasi. Iya kaaann?

Saya sendiri melihat perempuan yang terdidik dan bermartabat cenderung lebih bisa bekerja sama dan bersikap inklusif (melibatkan seluruh elemen keluarga) sebagai proses pendidikan itu sendiri. Alih-alih fokus mengejar egoisme pribadi atau kompetisi gender, pendidikan yang berhasil justru membuat seorang perempuan bisa mengerti betapa pentingnya peran edukasi bagi generasi penerusnya kelak. Bahkan kabar baiknya, bekal ilmu yang diperoleh bisa menjadi amunisi yang tepat untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Misalnya kesadaran mengkonsumsi makanan bergizi seimbang akan diaplikasikan kepada anaknya saat menyusun menu bagi si kecil. Atau kemampuan membuat prakarya dan berkreasi bisa menjadi ide untuk kegiatan penuh kreativitas bagi sang anak di rumah.

Contoh yang saya alami adalah kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan aksi hemat energi yang diperoleh dari ibu saya yang seorang aktivis lingkungan hidup. Ibu saya selalu mencontohkan dan mengingatkan saya tentang pentingnya kebersihan diri, rumah, pemilahan sampah, dan membangun kebiasaan kecil berdampak besar bagi kelestarian alam.  Ibu saya bukan hanya mengingatkan, namun juga mencontohkan kepada seluruh anggota keluarga. Saya amat bersyukur bisa mendapatkan pendidikan tentang kesadaran lingkungan dari dalam rumah sendiri. Saya jadi teringat, jika dulu saya bandel dan tidak menuruti beliau, Ibu hanya bilang “Nanti pas sudah besar kamu baru tahu pentingnya ini..” Dan Ia benar!

Saya jadi berpikir, seandainya ibu saya tidak memiliki kesadaran lingkungan yang baik, tentu kami tidak akan seperti sekarang. Hal itulah yang menjadi motivasi saya untuk menjadi perempuan terdidik sebelum mendidik anak sendiri.

.

Jika di kampus akademis kita ingin menjadi mahasiswa berprestasi, di kampus kehidupan dan keluarga, kita harus bisa menjadi perempuan berdedikasi. Yakni dengan terlibat aktif dan melibatkan anak dalam pendidikan keluarga

.

Sekarang, sudah setuju untuk mengganti judul tulisan ini menjadi “Perempuan: Pendidikan dan Keluarga” ?

Regards,

signature yosay aulia blog

#perempuan #sahabatkeluarga

 

Referensi:

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=lomba/index

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s