Hadiah 2 Tahun: Khitan dan Sapih

Akhirnya saya membayar hutang untuk menuliskan review dan berbagi pengalaman tentang hal yang cukup spektakuler : melakukan khitan di usia dini di Belanda sambil menyapihnya. Tanpa bermaksud berlebihan, tapi sebelum menjalani kedua proses itu, nyunatin anak kecil usia dua tahun di negeri orang sambil menyapihnya terdengar menegangkan sekaligus menantang buat kami, terutama saya sang pendonor asi. Namun setelah merundingkan dengan sang ayah, akhirnya kami sepakat melakukan ini. Setelah ayah ibu sepakat, barulah sang anak yang dibujuk dan disosialisasikan bahwa : nanti ketika ulang tahun yang kedua akan dapat banyak hadiah (jujur bagi saya khitan adalah hadiah untuk si anak), dan sudah tidak minum asi lagi. Karena Fatih anak soleh, pasti bisa bobo sendiri tanpa harus “nn”. Sosialisasi itu berlangsung selama 2 bulan dengan intensif sambil menghitung hari bahwa sekian hari lagi dia akan ulang tahun yang kedua.

Sejujurnya, saya pribadi berani mengambil keputusan ini karena:

  1. Pendapat beberapa keluarga Indonesia yang tinggal di Groningen bahwa proses khitan di Belanda tidak se menakutkan di Indonesia. Bahkan semakin kecil semakin baik. Sang dokter pun mengatakan bahwa usia 2 tahun sudah terlalu tua untuk dikhitan, sebaiknya maksimal usia 3 bulan lah untuk anak laki2 selanjutnya. Mengapa? Pak dokter beralasan bahwa semakin kecil akan semakin cepat kesembuhannya dan lebih segera bersih. Semakin kecil, si anak juga belum melakukan perlawanan yang berarti dengan apa yang terjadi. Di beberapa negara barat, ketika si anak bisa menolak proses khitan, maka orangtua tidak bisa memaksakannya, kadang-kadang di situlah kesulitannya. Plus, karena belum ada peristiwa ereksi, sehingga lokasi yang dikhitan tidak akan mengalami sakit yang berarti. Begitulah alasan Pak Dokter.
  2. Bahwasannya kami merasa mengkhitankan anak adalah kewajiban dan hak ayah ibunya. Maka keputusan ini diambil dengan hati yang merdeka dan murni prerogatif kami sebagai orangtua. Alhamdulillah kekompakan kami teruji kembali. Uyeah makasih ya bapake fatih.
  3. Efisiensi waktu dan tenaga untuk mengkhitan dan menyapih. Saya berpikir, bahwa proses sapih sangat ditentukan oleh peran ayah dalam mengalihkan keinginan anak untuk menyusu kepada perhatian lain. Begitupun dengan perawatan pasca khitan yang tentu sang ayah jauh lebih mengerti, plus saya juga tidak punya pengalaman sama sekali. Sehingga, saya berpikir kenapa tidak disatukan saja proses ini. Alhamdulillah bapake Fatih menyanggupi dan semua berjalan lebih baik daripada bayangan kami.

 

Pengalaman tentang proses khitan sudah pernah dituliskan oleh ayah dari Haidar di sini. Cerita itu membuat kami semakin yakin untuk segera mengkhitankan Fatih. Bedanya, Haidar sudah berusia 7 tahun saat itu, dan Fatih berusia 2 tahun. Nah kali ini saya akan menyampaikan pengalaman saya terkait khitan dan sapih di saat bersamaan.

 

 

Berikut ini pengalaman dan persiapan yang perlu diperhatikan:

  1. Sosialisasi itu penting. Walau bagaimanapun, hubungan darah, genetis, dan ikatan jiwa orang tua dan anak tetap akan bisa menembus asumsi yang meragukan pemahaman anak tentang apa yang disampaikan. Maksud saya, walaupun beda usia yang cukup jauh dan bicara dengan topik yang cukup kompleks, anak akan menangkap ketulusan maksud orang tuanya. Saya sih tipe yang to the point, setiap sosialisasi selalu bilang “Wah, sebentar lagi Fatih ulang tahun kedua lho..nanti Fatih akan disunat pas ulang tahun kedua, dibersihin ini nya supaya sehat dan jadi anak soleh. Nanti dapat auto banyak sekali. Mau auto?” maka dia akan menjawab dengan mantap “Ya”. hahaha.. setelah itu dipeluk dicium dan diapresiasi dengan sebutan anak soleh anak hebat.
  2. Sosialisasi bukan hanya kepada si anak, tapi juga keluarga besar. Sampaikan saja alasan logisnya dan sampaikan setelah dibooking dan dibayar, supaya tidak bisa dibatalkan. Poin ini penting sih buat kami karena posisinya Fatih adalah putra mahkota dari kedua belah pihak yang terkadang keputusan orangtuanya dianggap terlalu koboy. Nggak papa, Fatih tetap sayang mama papa. Okesip.
  3. Berdoa, berdoa, berdoa. Anak adalah amanah yang Maha Kuasa, begitupun khitan dan sapih juga merupakan perintah-Nya. Maka mohonlah pertolongan-Nya untuk mampu menjalankan amanah itu dengan baik.
  4. Siapkan alasan logis dan jujur ketika anak minta menyusu (saat proses sapih). Saya sendiri mengatakan bahwa memang jatahnya habis, dan sekarang minum susu moo (sapi) saja. Alhamdulillah dia mau. Malah selalu bilang habis habis setiap dia ingat untuk menyusu. Artinya dia sebenarnya sadar tapi belum sepenuhnya move on heheh.. Gapapa move on itu butuh proses nak..
  5. Siapkan rectal paracetamol yang akan digunakan setiap 4 jam sekali selama 3 hari sampai 1 minggu pertama.
  6. Siapkan mainan, pacifier, atau dot susu untuk selama proses khitan.
  7. Siapkan hiburan, mainan kesukaan, dan makanan kesukaan untuk menaikkan moodnya sebelum dan setelah khitan.
  8. Khusus untuk sang ayah, siap2 agak begadang untuk perawatan pasca khitan hari2 awal karena harus memasukkan paracetamol via rectum setiap 4 jam sekali. Gapapa, sebentar kok kalo dibandingkan dengan menyusui di tengah malam begadang.
  9. Khusus ayah juga, siapkan stamina, kreativitas, dan mainan yang banyak untuk mengalihkan perhatian anak selama proses sapih.
  10. Hampir lupa, tanya ke beberapa alternatif klinik khitan tentang prosesnya keseluruhan mulai dari buat janji sampai perawatan pasca khitan. Berapa lama sembuhnya, apa yang perlu diperhatikan, dan apa yang perlu disiapkan. Karena khitan di sini cenderung lebih woles dalam hal pantangan (nggak ada pantangan makan setelah khitan), maka untuk kasus Fatih, yang diperhatikan adalah jangan sampai ada demam sebelumnya, alergi, dan vaksin dalam rentang 1 minggu setelahnya.

 

Alhamdulillah,, proses khitan, sapih, dan perawatan pasca khitan berjalan lancar. Hanya ada 1 drama di hari pertama sapih, ketika Fatih sakau asi di pagi hari, maka bapake langsung sigap mengusir saya dan mengajak Fatih nonton mobil-mobilan.

fatih sunat
Fatih dan Dokter Alui, dokter yang melakukan operasi khitan. Di sini, khitan dapet sertifikat lho untuk mengapresiasi keberanian si anak 🙂

Kesimpulan :

Menurut pengalaman kami, mengkhitankan anak di sini di usia dini sangat menyenangkan bukan hanya untuk si anak, namun juga untuk orang tuanya. Nggak ada pantangan, nggak ada perban, nggak ada antibiotik, nggak ada larangan ini itu, hanya butuh kesabaran 1 minggu pertama. Fatih bisa melompat, berlari, naik mobil-mobilan dengan posisi seperti naik kuda, dan tengkurep sejak hari pertama (beberapa jam setelah khitan). Tiada kesakitan yang berarti. Bahkan seminggu setelahnya Fatih udah bisa main ke Belgia dengan ceria dan semangat.

Sebagai orangtua, tentu kami semakin kompak dan kooperatif dalam mendukung pertumbuhan anak dan pengambilan keputusan keluarga. Saya sendiri sebagai orangtua belajar bahwa anak-anak terlahir dengan keberanian dan segala emosi positif sebagai fitrahnya. Saya tidak boleh membatasinya dengan ketakutan, praduga, paranoid, dan persepsi yang berlebihan. Fatih lebih hebat daripada yang saya duga. Ia bisa melewati proses kedewasaan ini dengan sangat lancar tanpa hambatan yang berarti. Pelajaran banget bahwa untuk step hidup selanjutnya, saya nggak boleh banyak melarang dan banyak khawatir.

Karena Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan (Carol Dweck, The New Psychology of Success).

Selamat untuk Fatih, Terima kasih Papa Fatih. Kalian juara !

Credits to all groningers: Makasih banyak doa dan dukungannya. Kalian adalah keluarga yang hebat 🙂

 

Regards,

signature yosay aulia blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s