Stiker Pembangun Karakter

Siapa yang sering kewalahan menghadapi aneka rupa keinginan anak? Mulai dari kebutuhan dasar seperti mau makan dan buang air, sampai kebutuhan tersier bahkan kadang cenderung “berlebihan”?

Siapa yang tak jarang bingung mendisiplinkan anak? Atau kalaupun berhasil, kedisiplinan ditegakkan dengan kekerasan dan teriakan?

Saya dan suami pernah mengalami itu semua. Sebagai orangtua muda yang baru memiliki anak 3,5 tahun terakhir ini, tentu banyak hal baru yang kami pelajari. Apalagi pertumbuhan anak usia dini sangatlah pesat, baik dari segi fisik, psikis, maupun kognitif.

*

Berikut ini kami ingin bercerita sedikit tentang pengalaman kami selama mendampingi si sulung, Mas Fatih (3,5 tahun) tentang cara mendisiplinkan sekaligus mengelola keinginannya.

Mas Fatih sudah menunjukkan tanda-tanda karakter kholerisnya sejak bayi. Ia memiliki keinginan yang kuat terhadap apapun yang sudah dideklarasikannya. Misalnya ketika bayi, ia tipe yang akan terus menangis atau menuntut haknya untuk minum ASI jika rasa laparnya tiba. Ketika terbangun tengah malam, ia hanya ingin dipeluk ibunya sambil minum ASI. Jika beberapa bayi bisa segera tenang dan tidur lagi saat orangtuanya menepuk-nepuk badannya, hal itu tidak berlaku bagi Mas Fatih. Atau ketika kami sempat menitipkannya di daycare untuk sementara waktu, ia akan terus menangis sepanjang hari hingga bertemu ibunya.

Hingga saat ini, ia masih menunjukkan keinginannya yang kuat. Bedanya, sekarang Mas Fatih sudah bisa berkomunikasi lancar dan diajak bernegosiasi. Ada hal menarik yang kami pelajari tentang sebuah metode untuk mendisiplinkan anak sekaligus mendidiknya mengelola keinginan tanpa kekerasan dan tanpa tantrum. Yakni dengan cara ceklis harian, atau istilah lainnya habit tracker.

*

Ceritanya, Mas Fatih sedang sangat suka dengan permainan Lego seri polisi. Keinginannya muncul saat ia bermain di rumah temannya yang kebetulan memiliki mainan serupa. Sepulang dari bermain, kontan Mas Fatih mengajak saya untuk ke sebuah toko agar bisa membelinya. Saya yakin saja mengajaknya ke sana karena saat itu sebenarnya tokonya sudah tutup. Heheheh… dan ketika melihat tokonya tutup, saya menjelaskan padanya bahwa kami belum bisa membelinya. Tak disangka airmatanya meleleh sambil terisak ia mengatakan “Mau mainan Lego polisi….” Saya pun langsung memeluknya dan mengatakan bahwa jika tokonya tutup, kita tidak bisa membelinya.

Sisi lain, di saat yang sama, kami sedang kewalahan membujuknya untuk mau ikut belajar salat dan membiasakannya tidur sendiri. Mas Fatih sudah memiliki ranjang anak-anak agar ia belajar tidur sendiri, meskipun masih berada sekamar dengan orangtuanya. Saya melihat momen ini sebagai saat yang tepat untuk sama-sama belajar. Kami belajar untuk bersepakat dan menepati janji. Dan khusus untuk Mas Fatih, ia belajar bahwa memiliki keinginan harus disertai usaha untuk memperolehnya. Tidak ada yang instan, semua butuh proses, dan kami sama-sama menikmati proses tersebut.

.

Esok harinya, ia menagih lagi dan yakin sekali kalau toko mainannya sudah buka. Saya hanya katakan, “Fatih harus kumpulin stiker ini dulu.. coba lihat.. kalau stikernya udah penuh, Fatih boleh beli Lego polisi..” Negosiasi dimulai. Saya menunjukkan sebuah ceklis untuk memonitor dan membangun kebiasaan baru.

“Lihat ini, setiap Fatih bisa tidur sendiri, besok pas bangun pagi Fatih tempel stiker di sini.. kalau sudah penuh, boleh beli Lego.. Kalau Fatih ikutan mama papa salat, tempel stiker-nya di sini. Kalau keduanya sudah penuh, kita beli Lego..”

Meskipun sambil cemberut dan sedikit manyun sambil merajuk “Tapi Fatih nggak mau …. “ akhirnya ia setuju dengan berbagai bujuk rayu orang tuanya. Singkat cerita, permainan dimulai!

*

Ceklis habit tracker ini sebenarnya sederhana saja. Hanya sebuah kertas yang saya gambar kotak-kotak (ada 30 kotak untuk menunjukkan 1 bulan adalah 30 hari) plus gambar kasur dan gerakan salat sederhana. Kenapa 30 kotak? Sebenarnya menurut banyak penelitian ilmiah, seseorang membutuhkan waktu 21 hari untuk bisa membangun sebuah kebiasaan baru dalam dirinya hingga bisa berjalan otomatis. Saya genapkan jadi 30 hari, ya supaya genap sebulan dan kebetulan setelah 30 hari itu pas dengan jadwal diskon tengah tahun di seluruh toko. Heheheh…

Apakah metode ini berhasil untuk kami?

Ya! Saya puas dan merasa bersyukur sekali bisa menerapkan metode ini. Meskipun di 2 minggu pertama banyak terjadi tarik ulur, diskusi malam sebelum tidur, bujuk rayu, iming-iming dan berbagai rengekan; Alhamdulillah akhirnya kami berhasil melaluinya. Dan hebatnya, Mas Fatih sama sekali tidak tantrum atau menangis meraung-raung (syukurnya memang dia tidak punya kebiasaan tantrum sih meskipun memiliki keinginan kuat). Paling parah, kalau dia sedang sangat ingin tidur dengan ayah ibunya, ia akan menyerah dan bilang “Fatih gak mau Lego polisi ah.. mau tidur sama mama papa aja…” (saya baru sadar, ternyata sikap menyerah ini sudah ada dalam diri manusia bahkan sejak kanak-kanak ya). Dan kesadaran ini membangunkan saya tentang peran orangtua untuk terus mendukungnya.

Saya hanya mengatakan, “Ah masa.. yang bener.. nanti Fatih sedih lho kalau nggak jadi beli Lego… sini mama pukpuk sambil cerita… besok pagi, Fatih tempel stiker lagi.. trus kalau udah penuh, nanti kita beli Lego..”

Akhirnya ia mau belajar tidur sendiri.

dsc_0497
Berani tidur sendiri 🙂

Atau kalau ia sedang malas ikutan salat, masih kami perbolehkan salat di kasurnya, atau kami motivasi untuk salat di sajadah bergambar mobil favoritnya. Untuk kebiasaan salat, kami ingin lebih perlahan dalam membangunnya karena memang tujuan awalnya hanya untuk memperkenalkan kebiasaan. Bukan sebuah bentuk kebiasaan nyata seperti halnya kesadaran untuk mau tidur sendiri.

_20180812_2040045039553222786453859.jpg
Belajar salat ditemani Papa, mengahadapnya pun masih sesukanya

Kertas stikernya sudah penuh!

Ya, setelah kurang lebih satu bulan, akhirnya kertas itu sudah penuh dengan stiker. Artinya Mas Fatih sudah berhasil tidur di ranjangnya sendiri setiap malam dan mau ikut salat dengan orangtuanya sehari sekali selama sebulan. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Walaupun sempat kendur dan malas di awal, sekarang ia sudah dengan refleks bergerak ke ranjangnya setiap malam saat ia mengantuk.

“Mama, Fatih ngantuk.. ayo kita bobo, Mama di sini ya pukpuk Fatih..”

Dan, setiap pagi ia bangun dengan perasaan puas, gembira, dan bangga menemukan dirinya berhasil tidur di ranjangnya sendiri “Mama, tadi malem Fatih bisa bobo sendiri yaaa… good job

Saya pun menyambutnya dengan suka cita, “Iya, keren banget Alhamdulillah.. Fatih hebat ya berani bobo sendiri ya.. nanti kita tempel stikernya lagi ya..”

“Iya, nanti kalau stikernya udah penuh, nanti Fatih beli Lego…”

Begitupun saat membiasakannya salat. Kami belum terlalu ketat dalam hal ini. Ia boleh solat kapanpun ia mau, dan hanya dua rakaat. Yang penting ia sudah tahu alur gerakannya dan sudah terbangun kesadarannya. Ia bisa ikutan salat saat waktu Zuhur, Asar, bahkan Duha. Sesadarnya saja. Saya hanya mengingatkannya dan bertanya, “Fatih udah salat belum.. kalau belum, nanti gak bisa tempel stiker lho.. Nanti kan kalau Fatih salat, bisa berdoa sama Allah minta Lego” Kadang-kadang ia manyun, tapi kami tetap menemaninya dan belajar gerakan salat bersama. Dan seusai salat, ia berdoa seraya mengangkat kedua tangannya “Ya Allah, Fatih mau Lego.. amin!” Ah, anak-anak… bagi kami bukan Lego yang penting, tapi kesadarannya untuk bersandar kepada Yang Mahakuasa lah yang utama.

dsc_05321
Kertas stiker yang sudah penuh dengan stiker dari kartun favoritnya

Maka, sesuai janji kami, akhirnya Lego itupun terbeli sesuai dengan cita-citanya. Kami juga membungkusnya dengan kertas kado agar ia merasa senang mendapatkan hadiah atas kerja kerasnya. Sejujurnya, bagi kami Lego seri polisi ini termasuk yang agak mahal harganya. Tapi karena kami sudah bersepakat, kami pun menabung (dan mencari momen yang tepat saat diskon besar). Intinya, orangtua juga bekerja keras untuk sama-sama belajar.

.

Sedikit ke belakang, kenapa sih kami mau melakukan ini?

Kenapa tidak langsung membelikannya saja?

atau kalau memang terlalu mahal, kenapa tidak menolaknya saja?

Jawabannya, karena kami ingin mengajarinya satu hal (meskipun di perjalanan kami belajar banyak). Pelajaran utamanya adalah: membangun tanggung jawab dalam bercita-cita. Tanggung jawab ini bisa berupa kerja keras, menikmati proses, dan berdoa.

Kami menghindari berkata “Jangan ah, mahal, nggak punya uang, habis-habisin uang aja..” (atau yang sejenisnya) Meskipun permainan itu memang lebih mahal daripada jenis mainan lainnya. Kami tidak mau ia tumbuh jadi manusia yang mudah menciptakan alasan agar enggan meraih cita-citanya. Kami tidak mau mengajarinya making excuse. Ini sebuah penyakit yang mengerikan dan sulit sekali mengubahnya ketika dewasa kelak.

Nanti ketika dewasa ia tak mau belajar meraih impiannya, atau tak meneruskan sekolah karena alasan tertentu.

“Nggak ah Ma, gurunya galak, aku jadi susah belajarnya..”

Atau,

“Itu lesnya mahal Pa, aku nggak mau belajar Bahasa Inggris ah..”

Atau yang lebih buruk,

“Aku gak punya waktu, sibuk kerja, susah kalau harus jenguk Mama Papa…”

Ah, saya tak berani membayangkan mendengar dari mulutnya.

.

Di sisi lain, kami juga tidak mau langsung membelikannya. Karena ia harus belajar bahwa tidak ada hal yang instan di dunia ini. Semua butuh proses. Dan mau tak mau, suka tak suka, mudah atau sulit, senang atau tidak, seluruh proses itu harus dinikmati dan dijalani. Mas Fatih awalnya memang enggan dan merajuk tak mau tidur sendiri, tak mau salat. Tapi akhirnya ia menikmati dan menemukan kesenangan dari kebiasaan barunya. Ia merasa keren bisa melewati itu semua. Bahkan yang lucu, setiap kali kami ke toko mainan hanya untuk melihat Lego impiannya ia akan berkata tentang seorang anak yang sudah membeli Lego, “Ma, itu kakaknya udah bisa bobo sendiri dan udah salat ya Ma…” hahah lucu banget sih kepolosanmu, Nak. Iya, hanya berkata itu, ia bisa mengendalikan diri untuk tidak meminta Lego. Ia sadar diri dan bisa mengontrol keinginannya, serta mengukur dirinya bahwa belum saatnya ia memiliki Lego selama kertas stikernya belum penuh. Ia bisa mengendalikan dirinya. Sebuah bonus pelajaran luar biasa dari proses ini.

Di era milenial generasi Z ini, ketika teknologi Android lebih dulu lahir sebelum Mas Fatih hadir ke dunia, kami tak mau ia kelak tumbuh jadi generasi instan. Generasi yang kehilangan ketajaman berpikir kritis dan kehilangan semangat juang. Kami ingin ia tumbuh jadi manusia yang mau berani bercita-cita, memiliki impian, sekaligus mau bertanggung jawab meraihnya dengan cara beradab dan semangat penuh integritas. Betapa banyak cerita anak remaja atau dewasa tanggung yang membunuh orangtuanya hanya karena tidak dibelikan motor. Bahkan baru-baru ini, seorang bocah berani menyodorkan pisau ke orangtuanya hanya karena hendak bermain gawai. Miris.

.

Inilah era kikinian. Sebuah era yang belum pernah ada sebelumnya, bahkan di generasi kami. Namun kami harus tetap mendampingi anak-anak untuk tetap memegang teguh nilai kebenaran universal. Sampai kapanpun, nilai ketuhanan, tanggung jawab, pengendalian diri, komitmen, dan kerja keras tak lekang oleh waktu.

Keluarga yang hadir sepenuhnya tentu mampu menjadikan hal positif dari era ini sebagai sebuah potensi sekaligus menangkal kekurangannya sebagai sebuah pelajaran. Peran orangtua dan kehadirannya yang utuh sama dengan nilai kebaikan universal. Tak tergantikan oleh teknologi.

Selamat ya Mas Fatih! Semoga tumbuh menjadi manusia bertanggung jawab 🙂

Regards,

signature yosay aulia blog

*)cerita ini terinspirasi oleh kompetisi menulis blog dari Kemendikbud Direktorat Pembinaan dan Pendidikan Keluarga

(https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/uploads/Gambar/5649_2018-03-09/Poster%20Blog.pdf)

#sahabatkeluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s