Asiknya Literasi di Belanda

Masih tentang budaya membaca di Belanda. Saya pernah ceritakan di sini tentang cara pemerintah Belanda menciptakan system yang mendorong generasinya untuk suka membaca. Mereka diberikan kartu keanggotaan perpustakaan secara gratis sejak usia 4 bulan hingga 18 tahun. Asik banget kaan..

Nah kali ini, adalah cara pemerintah Belanda mendorong kecintaan budaya literasi melalui museum. Namanya kinderboekenmuseum, atau museum buku anak-anak. Sebelum mengunjungi, awalnya saya kira ini hanya berisi buku-buku anak-anak seperti perpustakaan. Ternyata saya salah! Museum ini berisi suasana dari buku anak-anak tersebut.

 

KinderboekenMuseum ini ternyata terletak dekat sekali dengan denhag centraal station. Pokoknya, begitu turun kereta cukup jalan kaki aja untuk mencapai lokasi ini. Biaya masuk untuk anak di atas 3 tahun adalah 6 euro, dan 0-2 tahun gratis. Sedangkan mama papa yang punya museumkaart pasti gratis hehehe. Info hal teknis misal tentang jam buka, lokasi, dan biaya masuk ada di link di atas ya.

 

Museum ini secara umum terbagi menjadi 2 area. Area untuk anak dibawah 7 tahun, dan di atas 7 tahun. Nah tentu kami mengunjungi ke area untuk anak dibawah 7 tahun. Di sana, kami menemukan versi “nyata”dari buku cerita anak-anak. Ada yang dari buku cerita anak khas Belanda, misalnya serial Kikker kodok. Ada juga yang berasal dari buku cerita internasional, misalnya A Very Hungry Caterpillar. Intinya, museum ini membangun suasana dari cerita di buku anak-anak tersebut. Kalau saya nggak salah, ada 7 wahana (yang diadaptasi dari 7 buku cerita). Dua gambar di atas itu contoh wahana yang dijadikan icon brosur.

 

A Very Hungry Caterpilar

Misalnya, buku A Hungry Caterpillar karya Eric Carle yang ngehits itu, dibuat arena permainannya. Seru banget deh. Jadi ada daun, cupcake, apel, dan kepompong. Jadi anak-anak bisa berpura-pura jadi ulat (caterpillar), kemudian jadi kepompong, dan bermetaforsis jadi kupu-kupu. Jadi anak belajar juga proses metamorphosis di buku ini secara “nyata”dan kinestetis. Ini sih mamanya juga happy. In this point, I was jealous with Fatih wkwkw..

 

Kikker Series..

Kalo ini dari serial cerita Kikker (Katak dalam bahasa Belanda), dibuat berbagai situasi yang menggambarkan beberapa episode dan kehidupan si katak. Misalnya ada kolamnya, perahu, kemah, dan rumah puppet show kikker.

 

Wahana lain

Dari buku cerita lain pun ada. Misalnya dari tokoh Elmer the Elephant, Pim and Pom,, Nijntje, dan IjsBeeren.

 

Intinya, di setiap wahana itu, disisipkan juga pelajaran membaca dan rangsangan kognitif lainnya. Misalnya mengenal warna, mengenal huruf, mengenal arah (melalui permainan maze), dan mendengarkan cerita. Fatih suka sekali bermain di sini sampe gak mau pulang.

 

Kaitannya dengan Literasi?

Anyway, kalau merujuk dari teori-teori pendidikan tentang kegiatan pra membaca yang tak boleh terlewatkan, maka museum ini jadi jawabannya. Anak dan orangtua bahagia dengan proses kegiatan pra membaca yang menyenangkan seasyik bermain. Nggak heran anak Belanda sangat suka ke perpustakaan dan ngeborong banyak buku untuk dipinjam tiap bulannya. Nggak heran kalau negara ini (Belanda) menduduki peringkat 10 dalam hal budaya literasi versi Central Connectitut State University. Nggak heran kalau negara ini lebih suka berdiskusi atau ngobrolin hal berisi daripada sekedar nggosipin orang. Hihi.. ternyata akarnya dari kesukaan membaca.

 

Ngomonging teori sedikit nih. Jadi, kenapa beberapa anak mengalami kesulitan belajar membaca dan (atau sehingga) tidak mencintai kegiatan membaca, konon itu karena kegiatan pra membacanya terlewat. Apa sajakah kegiatan pra membaca itu? Kegiatan mendongeng, berdiskusi, bermain peran, mengenal bunyi huruf, dan membacakan cerita dengan suara nyaring adalah contoh kegiatan pra membaca. Kegiatan ini biasanya banyak dilakukan oleh orangtua dan guru, yang banyak berinteraksi langsung dengan anak-anak. Kegiatan ini tidak hanya merangsang kemampuan membaca, tapi juga kecintaan membaca. Plus, kegiatan yang banyak dilakukan oleh orangtua dan anak ini bisa meningkatkan bonding mereka lho.

 

Kesimpulannya, untuk keluarga muda dengan anak balita yang sedang tinggal di Belanda, museum ini recommended!

 

Next, pindah kemana kita supaya rajin baca? (ups!) hehehe

 

Sumber Referensi :

http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html

http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.537.8964&rep=rep1&type=pdf

http://www.eflmagazine.com/10-pre-reading-activities/

 

Regards,

signature yosay aulia blog

 

 

2 thoughts on “Asiknya Literasi di Belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s