Tak Bisa Menunggu (1)

Pagi cerah, perkutut di depan rumah berkicau, buah ceri mulai bergrelantungan di pohon penyejuk halaman depan rumah, gemericik aliran sungai kecil di samping rumah melengkapi kehangatan mentari Sabtu itu. Riana menyesap teh hangat favoritnya, kamomile plus setangkup roti bakar nutela. Sarapan yang ditemani oleh majalah kesayangannya.

 

Bel berbunyi. Riana tak bergeming, ia terlalu asik menikmati Sabtu paginya yang langka. Akademisi muda tersebut selalu dipadati agenda meeting dengan dekanat, pemegang proyek, rapat hibah penelitian, dan pasti riset di lab kesayangannya. Belum lagi kegiatan praktikum mahasiswa sarjana di almamaternya yang menuntut perhatian dan dedikasi penuh. Praktis Riana pun seringkali menikmati akhir pekan di depan layar laptop dan terkadang disuapi mama. Untungnya Riana memang akademisi muda yang berbakat dan cemerlang, perempuan cantik imut-imut yang sering dikira 7 tahun lebih muda tersebut diizinkan cuti seminggu sebelum hari pernikahannya tiba. “Hadiah untuk kegemilangan karir kamu, Riana. Plus saya akan datang di akad kamu nanti” Ujar professornya yang juga senior di proyek penelitian Riana, ketika ia menyampaikan sepaket bingkisan plus undangan cantik merah berpita emas.

 

“Ada yang mencarimu, Riana..” Mama berjalan dari arah ruang tamu. Riana mengernyitkan dahi. Rasanya semua checklist pernikahan sudah terpenuhi dan Riana tidak ada agenda apapun dengan Farhan, calon suaminya.

 

“Temui saja dulu” kata mama sembari menyerahkan jilbab kepada sulungnya.

 

Riana mengangkat alis, tanda setuju namun heran.

 

Keheranannya bertambah ketika ia melihat siapa yang datang.

 

“Hai Riana, Assalamualaikum”

 

“Waalaikumsalam, duduk , Don.. Mau minum apa ?”

 

“Terserah, tidak usah terlalu repot. Saya hanya sebentar di sini”

 

“Sebentar, ya..” Kemudian Riana kembali ke ruang tamu dengan beberapa cemilan dan segelas teh hangat. “Pagi-pagi di Bandung masih dingin kok, meskipun udah mulai macet kayak Jakarta. Hehe. Silakan diminum dulu, lalu sampaikan apa yang mau disampaikan”

 

Riana. Pengalaman hidup dan penddidikannya Eropa membuatnya semakin to the point dan tajam merasakan apa yang tersirat.

 

Usai menyesap teh hangat dan mengusap keningnya, Doni bercerita.

 

***

 

“Aku sudah menduga ini akan terjadi, Doni.. Aku sudah tahu. Sekarang aku yang tanya, Kenapa tidak Kau ungkapkan sejak dulu? Maafkan bila ada yang menyakiti, tapi aku tak bisa menunggu. Dan aku tetaplah manusia yang membutuhkan pertanda yang bisa kutangkap dengan indraku”

 

“Aku pikir kau akan menunggu, Riana. Seperti aku menunggu selama ini. Kau tahu, betapa terpukulnya aku saat aku menerima undangan darimu”

 

“Kau tau, betapa terpukulnya aku ketika aku menerima kenyataan bahwa aku tidak cukup layak untukmu, Don ? Betapa aku berharap-harap cemas ketika ayahmu menanyakan perihal apakah aku sudah ada calon atau belum. Delapan tahun aku menunggumu, mengagumimu dalam diam, dalam doa. Kau tak bergeming. Aku, aku selalu berharap-harap cemas. Beruntung aku berangkat magister. Aku belajar menempuh hidup dan harapan baru. Ah, berapa tahun lalu itu, Don ?”

 

Hening.

 

“Maafkan aku Doni, itu artinya aku memang tidak cukup baik untukmu. Sudahlah.”

 

“Tahukah kau, Riana ? Aku. Aku yang selama ini selalu terlambat mengatakannya kepadamu. Kupikir, keterlambatannya hanya akan sekali. Namun sekarang benar-benar terlambat”

 

“Don, maafkan aku. Aku bahagia dengan pilihanku sekarang. Nanti kita akan sama-sama mengerti. Aku yakin, 10 tahun lagi kita akan sama-sama bahagia dengan kehidupan masing-masing.”

 

“Terima kasih Riana, terima kasih telah menjadi cerita dalam hidupku. Di puncak cerita mudaku dulu, semua orang bertanya siapakah yang memenangkan hatiku. Dan jawabannya adalah dirimu. Namun tidak sekarang, ternyata..”

 

“Well, Doni. Meskipun tidak untuk hal ini, aku berterima kasih telah diijinkan mengenal keluargamu. Inspirasi nyata keluarga yang bernas. Salam untuk Om Budi dan Tante Diah”

 

“Aku pamit, Riana…”

 

“Hati-hati.. Terima kasih sudah jujur”

 

Assalamualaikum,

 

Waalaikumsalam..

 

“Terima kasih untuk kesempatan mengenal Riana, Tuhan..”

 

Riana gamang. Rakaat-rakaat yang diambilnya menjadi peneduh.

 

Leuven, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s