Karir Utama

Ini adalah catatan refleksi saya 5 tahun lalu, sepulang dari kuliah nutrition and dietetic di KU Leuven. Masih relevan, apalagi ditambah peran sebagai ibu saat ini. Jadi emak kudu pintar wkwkkw.

**

 

Kurang lebih 24 jam yang lalu saya mengikuti kuliah Nutrition and Dietetic di Kawasan Gasthuisberg, Leuven, Belgia. Kawasan rumah sakit yang terintegrasi dengan kampus kesehatan, mungkin seperti RSCM dan FKUI di Salemba. Kurang lebih seperti itu.

Kuliah kali ini bercerita tentang fenomena malnutrisi di negara-negara Asia dan Afrika. Sang profesor kemudian mengemukakan beberapa langkah untuk “mengembalikan” metabolisme dan laju pertumbuhan anak-anak yang kekurang nutrisi (dalam terminologi nutrisi, disebut undernourished). Tersebutlah 10 langkah yang tidak akan saya jelaskan di sini semuanya.

Salah satu langkahnya adalah : Loving care your children. Kemudian profesor tersebut menjelaskan kurang lebih begini

“Terutama untuk para ibu, peluk lagi anak-anak kalian, dukung mereka, berikan asupan nutrisi yang baik, bermainlah bersama mereka, dan biarkan mereka merasakan cinta kalian”

Kemudian, siapa sajakah yang rentan terhadap kondisi undernourished ? Anak-anak dan perempuan. Terutama perempuan, ibu hamil dan menyusui sangat rentan undernourished dan menyebabkan bayi yang lahir tidak dapat tumbuh dengan baik. Ini bukan masalah sepele, anak-anak yang tidak ternutrisi dengan baik akan tumbuh mnejadi anak yang tidak memiliki kekuatan cukup untuk berpikir dengan baik, rentan untuk sakit sehingga sering tidak masuk sekolah, mudah sakit sehingga kurang bermain dan bergaul dengan teman-temannya, atau bahkan lebih mudah terjangkit penyakit seperti AIDS.

Professor kemudian melanjutkan paparann tersebut yang durujuk dari pengalaman penelitian tesisnya di Zambia. “Kurva persebaran demografi Zambia tidak seperti distribusi normal pada umumnya, yakni proposi manusia dewasa lebih banyak daripada anak-anak dan orang tua. Bentuk kurva demografi mereka adalah dua puncak dan satu lembah di wilayah usia produktif. Artinya, jumlah penduduk produktif negara tersebut sangat minim, sehingga anak-anak diasuh oleh penduduk usia lanjut. Hal tersebut tentu tidak baik untuk perkembangan anak tersebut, dan artinya negara tersebut tidak memiliki produktivitas yang cukup tinggi untuk berkembang.”

Pembahasan berikutnya adalah “Mengapa orang-orang kelaparan dan tidak bernutrisi baik ? Dan apa solusinya ?”

Jawaban pertanyaan pertama bisa berupa peperangan, kondisi lingkungan, kondisi politik, dan janin yang tidak sehat.

Jawaban pertanyaan kedua sangat bervariasi. Mulai dari mengurangi jumlah penduduk, meningkatkan kualitas makanan, pendidikan, meningkatkan kondisi kesehatan (terutama perempuan), hingga leadership. “Masalah nutrisi, ketahanan pangan, dan kesehatan adalah masalah leadership” Begitulah kurang lebih papar sang profesor.

Jawaban yang menarik bukan itu, namun “educate women“. “Mungkin para pria di kelas ini tidak percaya, namun saran ini diambil dari fakta nyata di suatu desa di India yang mengintensifikasi pendidikan perempuan. Dalam sepuluh tahun, kualitas kesehatan meningkat, kondisi transportasi (jalan umum) membaik, dan perekonomian membaik” lanjut Professor yang mengalokasikan waktu pembahasan poin ini kurang lebih 3 kali lebih lama daripada poin lain.

Menarik.

Kuliah ini menjadi refleksi dan teguran bagi saya. Saya jadi teringat dengan ungkapan

wanita adalah tiang Negara, apabila wanita itu baik maka Negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka Negara akan rusak pula.

Ya, setidaknya untuk kasus desa di India tersebut, pepatah tersebut terbukti. Hm, tapi coba mari kita pikirkan lagi. Katakan dari fase seorang gadis yang belum menikah. Hukumnya adalah, perempuan baik untuk laki-laki baik, begitu juga sebaliknya. Bila perempuan tersebut baik maka ia akan memilih kualitas bacaan yang baik; menyeleksi input informasi yang masuk ke dalam pikirannya karena ia tau itu berpengaruh bagi ucapan, perilaku, dan kebiasaannya. Oke, karena dia perempuan yang memilih bacaan yang baik, maka ia tahu tentang makanan sehat dan kebiasaan yang menyehatkan jiwa raga. Artinya, ia ternutrisi dengan baik (lahir batin). Dengan segenap kebiasaan baiknya itu, ia akan tahu laki-laki mana yang pantas menjadi pemimpinnya dan ia hanya akan didekati oleh laki-laki yang baik sebab laki-laki yang tidak baik tidak akan cukup berani untuk memperistri perempuan tersebut.

Kemudian mereka menikah. Kebiasaan baiknya ternyata diterapkan juga ke dalam keluarganya, karena ia ingin keluarganya tumbuh menjadi keluarga yang baik pula. Maka si suami pun semakin terangkat kualitas kebaikannya. Ketika ia hamil pun, ia memilihkan nutrisi yang baik bagi janinnya. Janin tumbuh sehat hingga lahir, kemudian bayi tersebut tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, dan seterusnya. Selama pendampingan pendidikan anaknya pun, perempuan tersebut menjadi sebaik-baiknya ibu yang memilih kebiasaan terbaik bagi anak-anakya, meneladakannya, dan menerapkan pendidikan terbaik. Sang ibu juga menyiapkan nutrisi terbaik di setiap hidangannya, memberi pelayanan dan kebersihan rumah terbaik, cinta terbaik, dan segala yang terbaik agar anak-anak dan suaminya betah di rumah. Tidak ada broken home.

Anak yang tumbuh dari keluarga baik, tentu akan menjadi anak yang baik sebab dia mencontoh dari keteladanan di keluarganya. Anak yang baik pun akan menonjol di pertemanannya, jujur, berani, berprestasi, memiliki leaderhsip yang baik, dapat diandalkan, dan disenangi siapapun.

Kemudian anak tersebut menjadi pemimpin di bidangnya.

Dan seterusnya dan seterusnya..

Seandainya keluarga tersebut memiliki 2 anak, maka akan ada 2 pemimpin baik. Kemudian 2 anak tersebut berkeluarga dengan mengikuti kebaikan, maka akan ada 4 keluarga. Berkembang terus menerus. Seandainya itu terjadi pada semua keluarga di Indonesia, apa yang terjadi ?

Bila dahulu RA Kartini memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, itu tak lebih karena beliau ingin perempuan – yang menjadi ratu rumah tangga dan tempat pendidikan pertama bagi penerus bangsa -adalah sebaik-baiknya agen perubahan yang terdidik. Seringkali hal ini menjadi salah kaprah karena kemudian perempuan dianggap setara dengan laki-laki di berbagai aspek perekonomian, politik, dan sebagainya. Hal tersebut memang tidak salah. Tapi Karir utama seorang perempuan bukan sekedar menjadi ibu dokter, ibu guru, ibu insinyur, atau ibu direktur. Karir utama seorang perempuan adalah menjadi tonggak peradaban yang dimulai dalam komunitas bernama keluarga. Apabila ia menjadi ibu-ibu jabatan selain ibu rumah tangga, itu adalah wujud terima kasih kepada rakyat karena ia diijinkan berpendidikan. Tetap saja, karir utama seorang perempuan adalah menjadi tonggak peradaban.

Pernah melihat bandul yang berayun-ayun ? Selama ini kita berfokus dan tertarik dengan ujung yang berayun jauh. Padahal pengendaliannya ada di porosnya yang sederhana dan mudah dilakukan, namun memiliki dampak krusial bagi ayunan bandul. Di poros itulah perempuan berperan.

Leuven, Februari 2013.

One thought on “Karir Utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s