Persiapan Haji: Wasiat, Warisan, Hutang, dan Penitipan Anak

Tiga hal tersebut adalah yang paling bikin cirambay dan emosional banget pas ngerjainnya. Kenapa? Karena selama mempersiapkannya, saya selalu dihinggapi pertanyaan: bagaimana saya mempertanggung jawabkan amanah ini.. Apakah amanah ini mendekatkan saya pada surga dan keridhoan-Nya atau hanya sebatas perhiasan duniawi belaka, bahkan mungkin malah mendekatkan pada neraka dan murka-Nya..

Tapi, mau tak mau, siap tak siap, semua ini harus dilalui dan dijalani. Dari seluruh proses ini, sisi positif yang paling terasa adalah: bertanggung jawab terhadap harta dan amanah, serta melepaskan kecintaan pada dunia. Terutama ke anak sih kalau saya. Saya parno banget kalau Fatih akan kenapa-kenapa dan nangis kejer karena kangen sama orangtuanya.

Wasiat dan Warisan

Surat wasiat dipersiapkan oleh saya dan suami. Masing-masing dari kami menyampaikan surat wasiat ke kedua orang tua masing-masing dan Fatih. Saya sendiri menambahkan surat wasiat juga untuk mertua dan adik saya. Isi surat wasiat itu utamanya:

  1. Mohon maaf dan doa restu
  2. SOP Perihal pengasuhan dan pendidikan Fatih (ini yang paling banyak heheh)
  3. Perihal pengurusan harta warisan
  4. CP tetangga / orang yang dipercaya di Belanda

 

Tentang harta warisan, sebaiknya dirinci dan diinventarisasi seluruh harta dan asset yang dimiliki baik yang di Indonesia maupun yang di Belanda. Terutama untuk harta yang di Belanda, berikan informasi dan langkah teknis juga bagaimana menyelamatkan harta itu jika dibutuhkan di luar perkiraan. Misalnya, bagaimana cara transfer uang kita di rekening Belanda ke Indonesia dsb.

Pengurusan harta warisan dan wasiat ini sebaiknya dipercayakan pada pihak ketiga dan saksi yang dipercaya. Bagi suami istri yang memiliki harta terpisah, sebaiknya juga dilakukan inventarisasi harta secara terpisah dan dibuat surat wasiat yang terpisah. Oh, jangan lupa juga ya dibuat duplikatnya dan ditandatangani di atas materai.

Yang penting adalah antara surat wasiat dan surat warisan ini harus nge-link ya satu sama lain. cantumkan CP yang dipercaya di kedua surat tersebut untuk saling berkordinasi.

Hutang

Ini sih udah pasti ya.. segera lunasi hutang dan kembalikan pinjaman kita ke orang lain. Intinya, pastikan kita berangkat haji dengan hati dan urusan yang plong tentang keduniaan. Termasuk bayar tagihan atau bayar bulanan yang akan jatuh tempo saat kita berada di tanah suci, pastikan sudah dilunasi atau dititipkan uangnya kepada yang kita percaya.

Penitipan Anak

This is the hardest part. Heuheu. Well, secara umum ada 2 cara untuk menitipkan anak selama kita beribadah haji.

  1. Mengundang orang tua ke Belanda. Kalau menggunakan cara ini, pastikan kita membuat invitation letter yang ditanda tangani gementee untuk mengundang mereka ke sini. Perhitungkan juga biaya operasional yang bisa dititipkan selama anak kita dititipkan.
  2. Mengajak anak ikut ibadah haji. Nanti saya ceritakan ya, karena ada teman sesama jamaah yang membawa anak usia kurang dari 2 tahun. Saat ini sedang dalam proses wawancara. hehe
  3. Menitipkan anak ke Indonesia. Saya memilih cara ini, jadi saya akan cerita lebih banyak tentang ini.
fatih mama schipol
Sebelum masuk gate pesawat menuju ke Indonesia. Alhamdulillah Fatih anak soleh gak rewel sama sekali baik selama di pesawat berangkat, di Indonesia, dan perjalanan pulang ke Belanda

Kenapa kami memilih opsi ini?

Karena kami nggak mau merepotkan tetangga yang ada di Belanda. Lagipula, kondisi kami saat itu agak rempong. Alhamdulillah ternyata ini adalah opsi terbaik karena membuat Fatih kenal lebih banyak saudara dan keluarga di Indonesia.

Kelebihan lainnya adalah,

  1. Fatih kenal Indonesia dan punya memori yang bagus tentang keluarga Indonesia
  2. Kami bisa lebih khusyu beribadah baik selama persiapan (manasik) maupun selama haji. Khusus tentang manasik, kami bisa bebas berangkat dan mengikuti kajian tanpa harus kepikiran si anak gimana, ninggalnya gimana, dan kalau pulang kemaleman gimana..
  3. Fatih kenal adzan dan salat berjamaah di Masjid. Hahaha..
  4. Kami terlatih untuk berpisah dengan anak, sehingga saat haji kami sudah gak terlalu mellow..

 

Kekurangan yang harus diantisipasi:

  1. Sakit/ infeksi negara tropis. Bisa diantisipasi dengan vaksin dulu sebelum ke Indonesia
  2. Kebiasaan dan pola pengasuhan pendidikan ortu ke nenek kakek yang perlu dikomunikasikan (saya bikin 6 halaman SOP khusus pengasuhan Fatih lho hahah)
  3. Biaya tiket pesawat
  4. Dokumen fatih (paspor, verblijf, dan surat kuasa yang ditandatangani ayahnya)
  5. Pola pengasuhan nenek kakek ke ortu yang cukup bikin jetlag (bisa diantisipasi dengan membuat SOP pengasuhan anak)
  6. Obat-obatan dan surat medis (jika diperlukan)

 

Dokumen Penting yang Harus Disiapkan

  1. paspor anak (ditinggalkan di Indonesia)
  2. verblijf anak (ditinggalkan di Indonesia)
  3. surat keterangan dari ayahnya kalau si anak boleh dibawa travelling oleh nenek kakek dan ibunya. Fyi, sebenernya saya nggak tahu kalau ini wajib ditunjukkan pas di imigrasi Schipol. Sehingga saya nggak nyiapin dokumen ini. Ternyata (menurut nasehat temen yang udah lama di Belanda, ini wajib. haha). Qadarullah, semuanya aman dan baik2 aja.
  4. surat dokter, obat, dan copy-resepnya kalau anak punya sakit tertentu
  5. kartu asuransi (ditinggalkan di Indonesia)
  6. Invitation dari Gementee untuk mengundang orangtua (jika anak kita nanti diantarkan oleh kakek neneknya kembali ke Belanda)

***

Apa sih yang bikin parno? Saya takut Fatih gak betah di Indonesia, sakit, atau kangen nangis meraung-raung nyariin ortunya. Alhamdulillah semua kekhawatiran saya tidak terjadi. Tipsnya? Mungkin karena saya menyerahkan semua kepada Allah. Allah yang memerintahkan haji, Allah yang mengundang kami, Allah juga yang menciptakan Fatih dan kami. Maka kami yakin bahwa Allah akan memelihara kami dan Fatih sebaik-baiknya.

Sepertinya itu dulu yang bisa saya ceritakan perihal keluarga dan harta yanga kan kita tinggalkan. Semoga bermanfaat ya.

Silakan kontak saya via email kalau ada dokumen yang diperlukan, mungkin mau lihat contohnya.

 

Wassalamualaikum

signature yosay aulia blog

3 thoughts on “Persiapan Haji: Wasiat, Warisan, Hutang, dan Penitipan Anak

  1. Pingback: Berhaji dengan Anak dari Belanda, Mungkinkah? – LOVE YOUR LIFE

  2. Masya Allah.. Ini patut jadi referensi yaa.. Lengkap banget persiapannya. Mungkin nggak semua orang kepikiran untuk membuat wasiat dan surat warisan. Terus, bikin SOP 6 halaman itu.. wow. 😀 Penasaran, ada komen nggak dari kakek neneknya terkait pelaksanaan SOP selama di Indonesia? Hehe..

    Like

    1. Yosay Aulia

      klo dr pembimbing haji kami kemarin sh emang wanti2 bgd soal wasiat dan warisan mungkin krn kami pendatang. klo sop 6 halaman ya kakek neneknya sh nurut2 aja meskipun kadang off side.. 😂 gapapa lah udh bagus mau dititipin

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s