NHW 4 Kelas IIP: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

ibuprofesionallogo

Tugas dari kelas IIP kali ini menantang banget. Maka selain saya yang sok sibuk, butuh waktu kontemplasi, refleksi, dan tadabbur lebih dalam. Seperti tugas IIP 2 dan 3, tugas kali ini berhubungan dengan tugas 1, maka juga berhubungan dengan tugas 2 dan 3. Jadi kebayang nanti tugas akhirnya mungkin semacam skripsi kali ya yang nyambung dari tugas 1-9.

But that’s life. That’s studying. Dan IIP ini mengingatkan saya bahwa saya sedang belajar di universitas kehidupan. Yang nyambung seluruh kejadiannya berdasarkan garis waktu. Dan ada tujuannya.

This is how I want to craft you into. Your pathway now, your misery, your pain someday will be a grace for much more people after you. (Allah SWT kepada Nabi Musa a.s dan Nabi Yusuf a.s).

 

Connecting the dots (cenah Steve Jobs).

 

Seharusnya hidup seperti itu ya? Kontinu, berkesinambungan dalam kebaikan demi mencapai tujuan penciptaan dan menjadi berkah bagi banyak orang.

 

So, mari kita bahas dan jawab pertanyaan di tugas NHW 4 ini satu per satu.

 

  1. Mari kita lihat kembali NHW #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Sejujurnya saya baru sadar lho kalau semua NHW ini akan selalu berkaitan dan makin kompleks. Haha. Oke, kalau ditanya jurusan ilmu kehidupan, jawaban saya di NHW 1 adalah mampu menerima, mendengarkan, dan memaafkan. Jawabannya normative banget ya? Tapi, kalau dipikir-pikir, norma itulah yang jadi modal utama pengasah EQ dan IQ saya.

Tapi, kalau ditanya jurusan ilmu kognitif, saya ingin mendalami ilmu tentang makanan halal dan literasi. (dan untuk mendalaminya saya butuh jadi pendengar yang baik serta berjiwa pemaaf kan ya heheh). Kenapa makanan halal dan literasi? Karena 2 hal itu adalah aspek utama yang membangun unsur manusia secara fisik, jiwa, dan intelektual.

Alhamdulillah saya merasa tidak salah jurusan kuliah saat menempuh pendidikan sarjana, yakni jurusan Mikrobiologi. Nah ketika menjelang masa skripsi, saya merenung dalam sekali dan cukup pusing, yakni tentang aplikasi yang ingin saya dalami. Saat itu (tahun 2007) Mikrobiologi diaplikasikan di bidang lingkungan, tambang, pangan, dan kesehatan. Maka setelah istikharah, saya memilih Mikrobiologi Pangan. Kenapa? Karena menurut saya disiplin itu bisa saya terapkan juga untuk keluarga. Kemudian, saya melanjutkan pendidikan master di bidang Teknologi Pangan. Bidang inilah yang mengantarkan minat saya pada investigasi kehalalan makanan, yang saat ini menjadi bidang pekerjaan saya.

Lalu bagaimana dengan literasi? Sebenarnya saya tidak menjalani pendidian formal kognitif secara khusus sih (misalnya dengan kuliah di jurusan sastra). Tapi kecintaan saya terhadap budaya ini sudah tertanam sejak saya belum mengenal alfabet. Saya suka bercerita, dibacakan cerita, dan didongengi oleh orangtua saat kecil. Hal inilah yang menanamkan minat baca – dan kemudian membangun karakter literat pada diri saya – tanpa disadari. Saya baru sadar, kenapa saya sering ketinggalan gosip kampus atau sekolah, sering nggak sadar kalau diomongin di belakang, berminat rendah pada serial drama, nonton TV, dan acara gossip; lebih suka nonton kanal National Geography dan insightful series. Ternyata ya karena saya sudah ditanamkan karakter ini sejak dini. Oleh karena itu, saya lebih menyukai komunitas yang membangun (seperti IIP ini misalnya) yang mengutamakan diskusi daripada debat dan ngomong di belakang. Kata teman saya, ini karakter literat (which is saya juga baru kenal istilah ini heheh).

 

So, dari ulasan di 2 paragraf di atas, saya simpulkan bahwa;

Adab mendengarkan, makanan halal dan budaya literasi adalah bidang ilmu yang ingin saya dalami.

 

 

  1. Mari kita lihat NHW #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

– di NHW 2, saya ingin belajar menjadi perempuan yang berempati dan solutif. Dan salah satu checklist harian saya adalah bersedekah dan membaca buku.

 

  1. Baca dan renungkan kembali NHW #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat

– seperti yang saya jelaskan di NHW 3, saya memiliki tipe kepribadian ENFJ-T, berpadu dengan karakter sanguine dan kholeris. Kombinasi karakter dan kepribadian tersebut, katanya cocok menjadi guru, konselor, mentor, pembimbing lah pokoknya.

Hm, bener juga sih. Saya suka melihat orang lain bisa maju dan bahagia dengan mengambil sesuatu yang baik dari diri saya.

Saat ini, saya tengah menjalani 3 karir. Menjadi ibu, menjadi auditor makanan halal, dan menjadi penulis (masih pemula). Dan ketiga karir itu mengasah dan mendukung satu sama lain, plus membutuhkan adab yang saya ungkapkan sebelumnya. Yakni adab mendengarkan.

Misalnya nih, ketika berhadapan dengan anak saya; saya harus lebih dulu mendengarkan dan mengapresiasi pendapatnya sebelum saya menasehatinya. Saya tidak ingin menjadi orangtua diktator dan otoriter seperti firaun. Hahaha. Saya ingin menjadi sahabat, murid, sekaligus guru bagi anak saya.

Lalu tentang karir sebagai auditor makanan halal. Di sini, saya belajar untuk mendengarkan dengan sangat seksama. Bagaimana tidak? Saya harus bisa membuat klien (pabrik makanan di Eropa) untuk mau menerapkan prosedur produksi halal (padahal mereka tidak mengkonsumsi makanan halal, bahkan nggak tahu pentingnya makanan halal). Nah lho. Bingung kan. Maka, ketika menjalani audit, saya lebih sering memposisikan diri sebagai pendengar dan konsultan. Karena kalau saya menghadapi mereka dengan kekerasan dan sikap arogan, citra Islam akan terlihat buruk.

Menjadi penulis, meskipun saya baru menjalaninya. Tapi pengalaman ini memberikan pelajaran baru. Semakin banyak saya mendengarkan, membaca, dan memahami orang lain, semakin banyak inspirasi untuk menulis. Dan modal itu menjadi masukan buat saya dalam menciptakan buku yang bisa jadi jalan berkah bagi banyak orang. Kasarnya, saya tidak hanya menulis untuk diri sendiri, tapi juga bermanfaat untuk orang lain.

 

  1. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 
  2. Ilmu fisiologi dan psikologi manusia
  3. Ilmu pangan dan sastra
  4. Ilmu sosial dan marketing

 

  1. Milestone

This is the hardest part. Karena saya ikut IIP ini agak di tengah tahun ya, setelah saya menetapkan rencana tahun 2018. Saya akan merencakan detail milestone nya per 2019. Tapi intinya, saya akan serius menjalani ketiga karir tersebut dengan banyak berlatih dan menambah jam terbang (serta pengalaman). (alhamdulillah punya suami s3 <sayang dan super supportif>).

 

Bismillah !

signature yosay aulia blog

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s