NHW 1 Kelas IIP: Adab Pertama (Seorang Ibu)

ibuprofesionallogo
gambar dari sini

Ini adalah tugas Nice HomeWork 1 dari IIP Luar Negeri. Membahas tentang adab menuntut ilmu.

***

Suatu siang, ketika saya tengah mencari beberapa materi jaman kuliah untuk membantu seorang kawan, mata terjebak pada suatu judul file. Namanya: Testimoni Wedding. Ingatan saya seolah tersedot ke kejadian 4 tahun lau. Saya menikah di Bulan Desember tahun 2013. Sehingga file itu sudah berusia 4 tahun 3 bulan.

Lucu, takjub, dan geli sendiri membaca ucapan dan doa dari teman-teman dekat kami untuk hari bahagia itu. Selain doa dan ucapan, yang unik adalah mereka memberikan testimoni tentang bagaimana kepribadian saya dan suami masing-masing. Dan bagaimana sebaiknya pasangan bisa saling mendukung berdasarkan kepribadian itu.

Khusus untuk saya, 3 kata yang paling mewakili adalah achiever, ceria, dan perasa. Saya rasa, karakter itu pun terbawa saat saya menjalankan peran sebagai ibu, bahkan sebelum memiliki anak. Sejak dulu saya berusaha membangun diri dan membekali kepribadian saya dengan berbagai teori dan ketrampilan motherhood. Misalnya belajar memasak, komunikasi dengan anak, memijat, mengurus rumah, dan beberapa teori parenting. Saya juga mencatat beberapa kekurangan dan kelebihan dari pola pendidikan dari orangtua terhadap saya kemudian memproyeksikan kepada kondisi saya saat ini. Intinya, sifat achiever saya ini juga turut membentuk saya ketika menjadi seorang ibu.

Maka, ketika sang buah hati telah hadir di rahim saya, pertanyaan yang terus menerus hadir di benak adalah: kamu mau jadi ibu seperti apa? Kamu mau anakmu melihatmu sebagai ibu yang seperti apa?

Pertanyaan itu awalnya saya kira bisa terjawab dengan berbagai persiapan yang sudah dilakukan jauh hari sebelum menikah. Tapi saya salah besar. Wait, oke tidak salah sama sekali sih, tapi ada bagian fundamental yang saya lupa persiapkan.

images-5-jpg
gambar dari sini

Titik balik

Menjadi ibu yang damai dan penuh hikmah. Setidaknya itu jawaban yang baru-baru ini saya temukan setelah (setidaknya) sepuluh tahun lalu saya bergelut dengan pertanyaan itu. Kenapa? Karena saya menyadari bahwa: sebanyak apapun dan sepandai apapun saya menguasai teori dan mencatat pola pendidikan terbaik sekalipun, tak ada gunanya jika tidak berangkat dari jiwa yang tenang. Nafs Muthmainnah. Begitu istilahnya dalam Alquran.

Kenapa akhirnya kondisi itu penting untuk diprioritaskan tercapai sebelum berbagai skill lain? Karena pergulatan batin dan pergulatan antar ibu itu sangat ganas liar luar biasa ya (ternyata). Di dalam rumah, ibu disibukkan dengan tumbuh kembang anak, nafsu makan anak yang kadang bikin pusing, keaktifan yang tak terduga, sakit, dan kewajiban sebagai istri juga menuntut performa yang baik. Sedangkan di luar rumah, ada kompetisi dan pamer dari para ibu lain yang anaknya sudah bisa ini itu, kadang lidah beberapa perempuan ringan sekali berkomentar x y z di luar pengetahuan dan kondisi asli ibu yang dibicarakan di belakang, serta persertuan antara mpasi gulgar vs non gulgar dan ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Intinya, seorang ibu itu harus menghadapi peperangan di dalam dirinya dan di luar dirinya sendiri. Sulit sekali.

Bayangkan, peperangan itu harus dihadapi bersamaan dengan tanggung jawab kita sebagai ibu. Tanggung jawab yang lebih agung dan besar dari Pencipta; yakni mendidik manusia.

 

Maka, tanpa hati yang damai, jiwa yang tenang, dan pikiran yang waras cepat mengambil hikmah, seluruh teori parenting itu akan berakhir sebagai teori di kepala. Tanpa ada penerapannya di kejadian nyata. Alhasil, impian untuk menjadi ibu yang baik pun makin pupus.

 

Itulah alasan, kenapa saya akhirnya memutuskan untuk berdamai terlebih dahulu. Menjadi bahagia dan memahami diri sendiri terlebih dahulu sebelum saya ingin mencapai ini itu dalam hal motherhood. Achievement saya bergeser.

 

Lalu bagaimana?

Saya akhirnya memutuskan untuk belajar, mendengarkan, dan belajar menjadi lebih tenang. Lulus dari salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia plus mendapatkan beasiswa S-2 dari lembaga bergengsi sempat menciptakan efek arogansi pada diri saya. Saya merasa bisa dan tahu. Saya merasa mengerti. Tapi, ironisnya, itu hanya di teori. Ketika saya dihantam oleh sebuah kondisi dan lingkungan yang mengharuskan untuk lebih banyak berdiam di rumah dan mengurus rumah tangga, saya stress bukan main. Bukan hanya karena kejenuhan yang tiba-tiba menyergap, tapi karena kondisi lingkungan yang sangat negative dan tidak kondusif untuk kesehatan jiwa saya. Akhirnya saya belajar untuk menerima, meyakini bahwa skenario Allah memang paling baik untuk saya. Saya disuruh belajar menekan ego, mendengarkan orang lain, dan menahan diri dari komentar tak perlu di depan atau di belakang orang lain.

 

Setelah bisa menerima dengan jernih dan berdamai dengan kondisi tersebut, barulah saya bisa melihat kesempatan baru. Saya mengambil kesempatan untuk bekerja part time, 3 hari selama seminggu, di kota yang lain. Dengan izin dan doa restu suami dan orangtua, saya memutuskan untuk bekerja (tentu karena ada alasan privasi lain yang tidak bisa diceritakan di sini) yang mengharuskan kami pindah dan menjauh dari lingkungan yang kurang baik itu.

 

Akhirnya? Karena saat itu saya memiliki kesibukan dan pelajaran baru yang menyenangkan, saya jadi belajar satu hal. Saya belajar memanfaatkan energi dan waktu secara efisien dan efektif. Saya memilah berita mana yang penting untuk saya ketahui, mana yang tidak. Saya belajar memilih lingkungan mana yang positif, mana yang menenggelamkan. Dan saya belajar menghargai waktu luang untuk lebih bisa mendengarkan diri sendiri.

Skill utama

Saat ini memang saya masih jauh dari level Nafs Muthmainnah dan menjadi ibu penuh hikmah. Tapi setidaknya saya sudah bisa memilah mana yang saya butuhkan, dan menyeleksi apa yang tidak berefek baik buat saya.

Hal yang masih perlu saya perbaiki adalah meningkatkan kualitas hubungan kepada Pencipta dan menyeimbangkan antara peran menjadi istri, ibu, dan berkpirah di luar rumah tanpa ada yang tersakiti. Yang pasti, kemampuan menerima, mendengarkan, dan memaafkan adalah skill penting yang harus saya kuasai. Sebelum saya beranjak kepada skill motherhood lain yang disebutkan di awal tulisan ini.

Semoga kita semua bisa menjadi ibu yang damai dan penuh hikmah

 

Regards,

signature yosay aulia blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s