Rendah Hati

Apa yang berbeda dari pengalaman menempuh pendidikan di tanah Eropa (untuk kasus saya, di Belgia) dan tanah air ?

Bahasa, beban dan ekspektasi akademis yang sangat tinggi, kemandirian, lingkungan internasional, fasilitas yang memadai, akses jurnal yang luas, kebebasan berdialektika, tantangan kehidupan non akademis, dan banyak lagi.

Tapi kali saya ingin berbagi nostalgia tentang profesionalisme dan kerendahan hati para akademisi (setidaknya dari pengalaman saya dan beberapa cerita yang pernah mampir di telinga).

Di sini saya lebih banyak belajar budaya daripada teori sekolah. Sebab faktanya hal non akademis sering menjadi variabel yang berpengaruh besar pada kesuksesan akademis. Banyak sekali yang berbeda dan membuat saya mengalami gegar budaya sehingga membuat saya terengah-engah mengejar materi akademis di semester awal perkuliahan. Salah satunya adalah : berdialektika dengan rendah hati. Mereka menyebutnya (ketika berada di kelas yang “pemalu”) :tell me in a respectful way.

Ya. Tanyakan saja ketidak mengertianmu. Sampaikan saja pemahaman dan pendapatmu. Ungkapkan saja letak kesulitanmu. Merasa bodoh? Katakan saja. Butuh surat rekomendasi ? Punya ide tesis yang berbeda ? Butuh bantuan diplomasi ? Any profesional problem, tell them. We can discuss in a respectful way.

Saya merasa amat kesulitan dan ketakutan di awal. Saya takut dimarahi, dipandang sebelah mata, atau dianggap tidak sopan bila bertanya atau menyampaikan pendapat. Dan saya lihat beberapa teman setanah air juga mengalami hal yang sama. Hm, mungkin wajar saja sebab sketsa berikut ini jarang terjadi di tanah air (ada, saya pernah menyaksikan langsung, tapi jarang).

-Ketika ada tawaran perpanjangan beasiswa, saya mencoba untuk daftar atas saran pembimbing akademis saya. Saat itu saya kebingungan mencari profesor mana yang akan saya mintai tolong sebab saya merasa belum pernah terlibat intensif dengan siapapun. Akhirnya saya memilih seorang profesor (kalau di indonesia, disebut kaprodi). Saya mengirim email, menyampaikan maksud saya. Di hari yang telah dijanjikan, saya mengkonfirmasi beliau dan beliau setuju untuk mendiskusikannya di ruangnya. Di akhir diskusi, beliau tanyakan deadline aplikasinya dan dijanjikan akan selesai sehari sebelumnya. And it was done perfectly!

– saya sangat tidak mengerti sama sekali tentang suatu matakuliah meskipun telah membaca seluruh materi berulang kali. Akhirnya atas dorongan asisten akademisnya, saya mengirim email untuk membuat janji “les privat”. Pada hari yang ditentukan, dengan membawa setumpuk materi, saya tanya berapa lama waktu yg tersedia untuk saya? Dijawabnya “anytime until everything is clear” huhu terharu. Dan simsalabim! 2 jam beliau saya ambil khusus untuk menjelaskan materi. Terharu sih. Ketika sarjana saya (dan beberapa teman saya) sering kehilangan kelas karena dosen yang sibuk. Di sini saya mendapatkan priviliege (asalkan membuat janji).

– Seorang kawan bercerita bahwa ia pernah dalam suatu waktu tutorial dengan profesornya dalam waktu yang dijanjikan. di tengah sesi tersebut, datanglah orang penting yang berkaitan dengan proyek besar. Profesor tersebut mengatakan bahwa ia sedang memiliki janji dengan mahasiswanya dan meminta tamu penting itu untuk menunggu, karena ada hak lain yang perlu dipenuhi.

– Ketika seorang guru besar turun dari panggung dan menunggu seorang wisudawati (saya) di belakang layar hanya untuk mengucapkan selamat secara personal. Saat itu saya hanya bisa berucap terima kasih untuk menggambarkan suasana hati yang membuncah buncah. (Fyi, ini terjadi ketika saya wisuda sarjana di Indonesia. Artinya, sebenarnya ada banyak kok akademisi rendah hati dan humble. Tapi memang jumlahnya perlu ditingkatkan hehe)

Kerendahan hati. Sederhananya berupa mengucapkan terima kasih, maaf, permisi, tolong, dan silakan. Atau berupa mengambilkan pulpen yang terjatuh, menyapa mahasiswa terlebih dahulu, menyediakan waktu lebih untuk mendidik dan memberi pemahaman, berkeliling kelas untuk mengambil sisa makanan dan membuangnya ke tempat sampah, atau sekedar mengakui bahwa sistem negaranya memiliki kelemahan.

Dengan kerendahan hati, ruang diskusi menjadi hidup dan terbuka luas sebab tidak ada yang merasa paling benar. Permintaan tolong pun menjadi lebih manusiawi sebab tidak ingin merepotkan orang lain. Menyampaikan feedback dan ketidak setujuan pun tidak terasa pedas karena disampaikan penuh hormat. Memberi pertolongan selalu ingin tuntas karena merasa bertanggung jawab. Mengerjakan apa yang bisa dilakukannya sendiri sebab tidak merasa lebih tinggi.

Saya juga baru sadar bahwa ternyata saya belajar hal yang luar biasa di sini. Di tanah yang penduduknya dikatakan individualis dan dingin. Di sini, saya melihat dari sisi yang berbeda.

Tulisan ini ingin menyoroti pelajaran yang saya peroleh sebagai objek yang menerima perlakuan rendah hati dan penuh hormat. Pun sebagai subjek yang masih terus belajar untuk selalu bersikap demikian.

 

Bahwa bersikap rendah hati adalah buah manis keimanan dan kecerdasan.

Regards,

signature yosay aulia blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s