Halte Bis

Ayu baru menyadari satu hal aneh. Ada lelaki yang diam-diam memperhatikannya. Awalnya ia mau mengelaknya. Namun ternyata lelaki itu terlihat makin jelas memperhatikan, bahkan mengikuti gerak-gerik Ayu bahkan sampai ke hal terkecil. Ayu berdiri, ia ikut berdiri. Ayu berjalan ke ujung halte, ia mengikuti. Ia melihat jadwal bis, ia juga. Bahkan saat koinnya terjatuh, ia ikut-ikut menunduk. Mereka bertemu beberapa bulan terakhir ini. Di sebuah halte tempat mereka menaiki bis jurusan yang sama, namun turun di pemberhentian yang berbeda. Mereka hanya bertemu setiap jam pulang kantor, sekita jam enam sore. Awalnya Ayu tak menyadari, hingga akhirnya sadar dan Ayu makin lama makin risih.

Namun Ayu mau tak mau jadi memperhatikan lelaki itu. Wajahnya agak unik. Hm, bukan wajah orang Belanda kebanyakan. Tapi ia pernah tak sengaja mendengar lelaki itu bicara Bahasa Belanda dengan sangat lancar ketika berada di dalam bis. Ayu mulai menerka-nerka.

Hingga suatu sore, namun gelap sudah menyelimuti langit Belanda. Kala itu musim dingin telah tiba, pertengahan Desember. Hujan turun dengan sangat deras. Meskipun belum saatnya bersalju, air yang jatuh sudah terasa sangat dingin. Di Belanda kala itu, biasanya salju turun di akhir Bulan Januari. Sore itu, lelaki yang membuat Ayu penasaran sedang menunggu di halte. Agak aneh, karena hari itu Ayu pulang agak terlambat, namun ia masih ada di sana.

“Hai, bis nya tidak datang setelah 30 menit aku menunggu di sini.. Kita naik bis yang sama kan?” lelaki itu menyapanya duluan.

“Hai, oh benarkah begitu? Wah, kalau begitu kamu sudah menunggu sangat lama..”

“Iya, tapi aku senang, aku jadi bisa naik bis bersamamu..”

“Terima kasih..”

“Namaku Lorenzo. Lorenzo Kolmus..”

“Oh, aku Ayu. Panggil saja Ayu..”

“Nama yang bagus. Apakah memiliki arti tertentu?”

“Ayu dalam Bahasa Jawa artinya cantik”

“Aha.. Kalau begitu, nama itu cocok untukmu..”

“Berapa lama bisnya akan tiba?”

“Aku tidak tahu.. aku sudah menunggu di sini, dan sudah dua jadwal bis terlewat tanpa ada satu bis pun yang datang ke halte ini. Tapi, aku senang terjebak di sini. Artinya aku bisa bertemu denganmu”

Ayu merasa agak risih dengan rayuan gombal lelaki itu, Lorenzo. Ia diam saja tidak menanggapi. Ia sudah lelah dengan kerjaan lembur hari ini, cuaca yang kurang bagus, lapar, dan sudah berpengalaman menghadapi gombalan laki-laki.

Memang sesuai namanya, Ayu memiliki kecantikan yang bersahaja. Tanpa polesan make up manapun, ia ditakdirkan untuk cantik. Tuhan berbaik hati padanya. Terlahir dari keluarga ningrat, pemilik nama Raden Ayu Anggun Prameswari ini memang berkepribadian sesuai namanya. Anggun, menawan, dan bak putri raja. Tak heran, dalam setahun, bisa ada puluhan laki-laki yang mendekatinya. Tapi Ayu tak mau menanggapi apa-apa. Menurutnya semua lelaki sama saja, belang seperti ayahnya. Ya, Ayu dilahirkan dari istri kedua ayahnya, karena istri pertamanya tak mampu memberikan anak. Namun demikian, ayahnya tetap saja menikah hingga memiliki 4 orang istri demi memenuhi nafsunya. Ayu beruntung, karena hanya ibunya yang bisa melahirkan 4 orang anak, maka ibunya lah yang paling dicintai ayahnya. Kehidupan Ayu secara materi tak kekurangan. Buktinya ia bisa melanjutkan sekolah dan mandapatkan pekerjaan di Belanda. Ia enggan kembali ke Indonesia. Enggan melewati semua drama di keluarganya.

“Itu dia bis nya sudah datang!” Lorenzo membuyarkan lamunan Ayu.

Ayu tak bergeming dan segera menuju tempat naik bis. Lorenzo mengikuti.

“Bolehkah aku duduk di sebelahmu?”

“Kalau kosong kenapa tidak.” Ayu menjawab dingin.

Lorenzo duduk mengikuti Ayu. “Darimana asalmu? Indonesia?”

“Ya..”

“Aku dari Belanda, tapi nenekku keturunan Indonesia dan dia lahir di Indonesia. Saat negaramu merdeka, nenekku pindah ke Belanda. Indonesia merdeka tahun 1947 kan?”

“1945..”

“1947..”

“1945..”

“1947..”

“Oke, kita membaca buku sejarah yang berbeda..”

“Aku suka makanan Indonesia. Nenekku suka membuat tahu telur kesukaan kakekku, nasi goreng, sate, lemper, dan ayam goreng..”

“Oh, ya? Kamu suka yang mana?” Ayu mulai tertarik dengan lelaki ini.

“Aku suka semua. Dan aku berharap suatu saat nanti bisa menikah dengan orang Indonesia agar bisa makan enak setiap hari..”

“Kamu aneh..”

“Tidak apa.. Ibuku yang orang Italia juga suka makanan Indonesia.. dan ia mendukung cita-citaku”
“Apakah kamu juga suka makanan Italia?”

“Yah, setiap hari aku memakan itu, masakan ibuku..”

“Wah pasti lezat sekali.”

“Ya, datanglah mampir ke rumahku esok hari. Akan kukatakan pada ibuku, aku sudah menemukan calon istri yang tepat untukku..”

“Maksudmu?”

“Aku ingin kau menjadi istriku..”

“Tapi kita baru kenal kan..”

“Tapi aku yakin..”

“Bagaimana dengan keluargamu?”

“Mereka pasti menyukaimu. Tak ada alasan dirimu untuk tidak disukai..”

“Sudah saatnya ku turun. Kita lihat besok saja..”

“Baiklah, setidaknya aku tahu di halte mana aku bisa menunggumu..”

Ayu turun bis dengan perasaan tidak karuan. Baru kali ini ia jatuh cinta, mengkhianati tekadnya sendiri untuk tidak mencintai laki-laki manapun.

Tapi, ia berpikir sebaiknya besok pakai baju apa untuk undangan makan malam di rumah Lorenzo.

Den Haag 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s